Bel digital sekolah sudah berbunyi nyaring sepuluh, bahkan lima belas menit yang lalu. Namun, sebuah pemandangan kontras terekam jelas di layar CCTV salah satu ruang kelas. Tampak beberapa siswa masih asyik tiduran di lantai, sebagian sibuk dengan game di gawai mereka, dan sisanya membuat kelompok kecil untuk bergosip. Suasana kelas begitu cair, atau lebih tepatnya, kehilangan arah.
Setelah ditelusuri, ternyata guru yang dijadwalkan mengajar pada jam tersebut belum juga menampakkan hadir di kelas. Entah karena masih terjebak menyelesaikan tugas administrasi yang belum kelar, tidak mendengar dering bel digital, atau jangan-jangan, sedang asyik mengobrol juga di ruang guru.
Pemandangan seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan menjadi hal lumrah yang berlarut-larut. Jika sebuah lembaga pendidikan bercita-cita menjadi sekolah unggulan yang melahirkan generasi emas, maka pilar utama yang harus ditegakkan terlebih dahulu adalah kedisiplinan. Tanpa disiplin, target kurikulum setinggi apa pun hanyalah angan-angan.
Kritik Reflektif: Menuntut Versus Mencontoh
Dalam keseharian di sekolah, kita sangat sering melihat guru dengan tegas menegur siswa yang datang terlambat, merapikan rambut siswa yang gondrong, atau merazia atribut seragam yang tidak lengkap. Tindakan tertib seperti ini memang diperlukan. Namun, ada satu pertanyaan reflektif yang harus kita ajukan pada diri kita sendiri sebagai pendidik: Apakah ketegasan itu sudah dibersamai dengan keteladanan?
Menumbuhkan kedisiplinan pada anak didik tidak akan pernah cukup jika hanya mengandalkan tindakan tegas yang bersifat punitif (hukuman) atau imbauan yang diulang-ulang bak kaset rusak. Lebih dari itu, ia membutuhkan role model nyata yang hadir setiap hari di depan mata mereka.
Bagaimana mungkin kita bisa lantang berbicara tentang pentingnya disiplin waktu kepada siswa, sementara kita sendiri masih sering terlambat masuk kelas dan justru paling cepat mengemas tas untuk keluar kelas sebelum waktunya? Sadar atau tidak, inkonsistensi ini sedang mengirimkan pesan tersirat kepada anak-anak bahwa aturan adalah hal yang boleh dilanggar jika kita memiliki kekuasaan atau posisi yang lebih tinggi. Kita sedang mengajarkan ketidakdisiplinan lewat tindakan kita sendiri.
Mengajar dengan Jiwa, Bukan Sekadar Teori
Di sinilah kita perlu memaknai ulang esensi dari profesi guru. Mengajar tidak harus melulu tentang transfer knowledge (transfer pengetahuan) dari buku teks ke otak siswa. Di era digital saat ini, pengetahuan bisa dicari siswa secara mandiri lewat mesin pencari. Apa yang tidak bisa digantikan oleh teknologi adalah sentuhan humanis, karakter, dan keteladanan. Keteladanan adalah metode pembelajaran yang terbaik dan paling membekas dalam sanubari murid.
Untuk menumbuhkan kedisiplinan yang murni dari dalam hati anak, seorang guru tidak boleh bersikap acuh tak acuh. Pendidik tidak boleh melakukan pembiaran ketika melihat ada anak didik yang melanggar komitmen disiplin. Langkahnya jelas: tegur dengan santun, berikan pengertian mendalam mengapa aturan itu ada, dan yang paling krusial, berikan contoh nyatanya.
Tanggung Jawab Bersama
Satu hal yang perlu diluruskan dalam ekosistem sekolah adalah persepsi bahwa kedisiplinan siswa merupakan tugas mutlak tim kesiswaan atau guru Bimbingan Konseling (BK) saja. Anggapan ini keliru. Kedisiplinan adalah tanggung jawab kolektif seluruh warga sekolah, terutama para guru sebagai garda terdepan.
Mari kita ciptakan iklim kedisiplinan itu mulai dari diri kita sendiri. Mulailah dari hal-hal kecil: hadir tepat waktu, berpakaian rapi sesuai aturan, dan menghargai setiap menit di dalam kelas bersama siswa. Setelah berhasil mendisiplinkan diri sendiri, barulah kita tularkan energi positif tersebut kepada lingkungan sekitar, baik kepada sesama rekan guru maupun kepada anak didik.
Jangan pernah hanya menuntut disiplin dari orang lain, sementara diri kita sendiri belum bergerak untuk menjadi bagian dari kaum yang disiplin. Ingatlah prinsip dasar pendidikan yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha—di depan, seorang guru harus menjadi teladan.- Ahmad Dul Rohim, M.Pd.,Guru Matematika)
