
Penulis : Ebta Hananing Caraka, S.Pd.,Gr.
Dalam perkembangan ilmu pendidikan, banyak sekolah berlomba-lomba dalam memberikan kurikulum terbaik untuk peserta didik. Salah satu pilihan orang tua dalam menyekolahkan anak adalah bahasa yang di gunakan dalam pengantar pembelajaran. Bany ak orang tua yang memilih sekolah berbasis Internasional. Mereka berpendapat bahwa sekolah menggunakan bahasa asing akan lebih baik. Sehingga orang tua tidak khawatir terhadap masa depan anak di era ini, karena banyak orang beranggapan bahasa asing mendominasi terjamin nya masa depan selain dari softskill dan hardskill. Selain bahasa, banyak orang berpendapat bahwa budaya modern dan sikap religi turut andil dalam menentukan masa depan anak.
Pergeseran bahasa terjadi saat ini di Indonesia tanpa di sadari oleh masyarakat. Bahasa daerah asli semakin menjadi minoritas dalam pemilihan minat. Banyak faktor pergeseran bahasa terjadi, mulai dari kurikulum sekolah dimana bahasa asing memiliki jam pembelajaran yang lebih banyak dari bahasa daerah seperti bahasa jawa. Selain itu, banyak orang tua dan lingkungan memperkenalkan bahasa asing sejak dini demi anak tidak tertinggal oleh kemajuan zaman. Bahkan akses informasi melalui pencarian website, media sosial dan game turut menampilkan bahasa asing dan parahnya lancar berbahasa asing masih terlihat lebih keren di kalangan masyarakat dibanding berbahasa daerah khusunya bahasa jawa. Fakor tersebut yang akhirnya menggerser bahasa daerah karena banyak masyarakat yang fokus pada pencapaian bahasa asing.
Pemilihan budaya lingkungan sekolah juga turut menggeser budaya dan adat masyarakat. Beberapa masyarakat perkotaan memilih budaya internasional dengan pertimbangan pembentukan karakter disiplin dan pola pikir. Beberapa lain nya memilih budaya religi dengan pertimbangan pertimbangan agamis dan adab. Semua budaya pada kurikulum sekolah adalah baik untuk pembentukan karakter, namun sebenarnya budaya jawa juga tidak kalah memiliki nilai adab dan karakter yang unggul. Generasi sekarang memiliki disiplin, pola pikir dan nilai religi yang baik namun sering tertinggal adalah nilai tata krama dan sopan santun dimana kita masih berada di lingkungan masyarakat Indonesia. Rata-rata zaman sekarang dari berbagai generasi sudah menggeser nilai sopan santun dan tata krama. Salah satu contoh adalah cara berpakaian. Era sekarang mulai dari anak sampai orang tua tidak lagi melihat sopan santun dalam berpakaian, hanya melihat dari sisi modern.
Pergeseran yang terjadi menjadi evaluasi bagi para pendidik di sekolah maupun di lingkungan rumah. Banyak pendidik yang memberikan inovasi untuk anak agar tetap berpegang teguh pada budaya dan tata krama asli daerah. Salah satu inovasi adalah dengan menggunakan konten menarik yang mengajarkan adab dan sopan santun. Ada pula menggunakan pembelajaran melalui praktek langsung melihat ragam budaya Indonesia seperti wayang sehingga anak bisa mengambil nilai moral yang baik dari pementasan wayang. Selain itu ada inovasi dimana anak diajak untuk ikut serta dalam pelestarian budaya dan bahasa daerah seperti mengadakan acara manten dalam bahasa jawa dan budaya asli jawa dan inovasi lain.
Eksistensi budaya, tata krama dan bahasa juga mulai diterapkan dari hal kecil seperti memberikan salam yang baik kepada orang yang lebih tua maupun yang masih muda. Beberapa orang tua mulai mengajarkan berbahasa krama kepada anak sehingga anak lebih sopan dalam berbicara kepada orang lain terlebih yang lebih tua. Anak di sekolah diajarkan berpakaian yang sopan dengan cara guru memberikan contoh untuk tidak mengenakan seragam yang ketat. Anak diajarkan dan diajak untuk meniru cara berbicara dan berperilaku yang sopan santun, beradab yang religi, berkarater disiplin dan berpola pikir yang cerdas.
Penerapan tersebut sebagai wujud eksistensi di semua generasi dan pembentukan karakter. Bukan hanya untuk anak namun sebagai pendidik juga memberikan contoh terlebih dahulu sehingga anak tidak hanya di tuntut namun juga ikut serta dalam melestarikan budaya, tata krama dan bahasa daerah. Hal tersebut menjadi korelasi yang terbaik untuk generasi emas kedepan dengan harapan anak bangsa menjadi anak yang beradab, berbudaya, bertata krama, religi, disiplin, berpola pikir cerdas, inovatif dan solutif.

Beri Komentar