Saat ini, kita berada di era di mana transformasi budaya terjadi dengan akselerasi yang sangat tinggi. Di balik pesatnya kemajuan teknologi, muncul kecemasan bersama terkait “krisis moralitas” yang melanda Generasi Z dan Alpha. Gejala memudarnya kesantunan dalam bertutur kata, hilangnya etiket perilaku, hingga berkurangnya rasa takzim kepada pendidik dan orang tua menjadi ancaman nyata bagi fondasi spiritual bangsa. Dalam Islam,agama yang membawa rahmat bagi semesta,adab tidak dipandang sebagai hiasan sosial semata, melainkan esensi utama dari identitas seorang muslim. Bahkan adab dipandang lebih utama dibandingkan dengan ilmu pengetahuan. Pondasi adab tidak bisa dibangun hanya beberapa jam saja tapi perlu waktu dan kebiasaan agar adab menjadi budaya. Saat ini budaya yang berkembang sangat mengkhawatirkan terutama dalam kacamata orang tua serta pendidik. Sebagai contoh, seorang siswa begitu mudah berucap “kotor” meski mereka berada di lingkungan pendidikan bahkan ada guru di sekitar mereka. Ketidakpedulian inilah yang membuat para pengajar miris. Keberadaan “sang pelita, pemberi penerang” diabaikan. Padahal Islam telah memberikan berbagai pedoman agar kehidupan berjalan selaras, serasi dan indah.
Dalam tradisi Islam, kedudukan etika melampaui penguasaan wawasan. Imam Malik pernah berpesan, “Dalami adab sebelum engkau mendalami ilmu.” Alasannya fundamental: wawasan yang tidak dibarengi etika cenderung melahirkan keangkuhan, sedangkan wawasan yang dipadukan dengan adab akan mendatangkan kemanfaatan bagi sesama.
Sudut pandang Islam mengenai penurunan standar moral saat ini berlandaskan pada keyakinan bahwa manusia adalah makhluk terhormat yang dianugerahi nurani dan logika. Terkait pentingnya menjaga lisan, Allah SWT menegaskan:
“Dan katakanlah kepada para hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan kata-kata yang paling baik (benar). Sesungguhnya setan itu memicu pertengkaran di antara mereka. Sungguh, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.'” (QS. Al-Isra’ [17]: 53)
Pesan ini menggarisbawahi bahwa ucapan yang buruk bukan hanya hambatan komunikasi, melainkan celah bagi perpecahan tatanan kemasyarakatan.
Pemuda masa kini hidup dalam ekosistem digital yang serba terbuka dan tanpa sekat. Budaya tidak sopan di internet (cyber-incivility) sering kali terbawa ke interaksi nyata. Kepatuhan pada orang tua kerap terkalahkan oleh ambisi kebebasan berekspresi, sementara penghormatan kepada
guru menyusut karena mereka dianggap sekadar fasilitator data yang bisa diganti oleh teknologi pencari.
Dr. Adian Husaini, seorang cendekiawan pendidikan Islam, dalam karyanya Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Beradab, menjelaskan bahwa problematika utama saat ini adalah hilangnya adab (loss of adab). Menurutnya, kehancuran tatanan hidup bermula ketika seseorang gagal menempatkan individu (seperti orang tua dan guru) pada posisi yang semestinya.
Islam menempatkan orang tua dan pengajar pada posisi yang sangat istimewa. Perintah untuk berbakti kepada orang tua diletakkan bersandingan dengan perintah mengesakan Tuhan:
“Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” (QS. Al-Isra’ [17]: 23)
Memahami prinsip ini berarti menyadari bahwa rida Ilahi berpangku pada rida orang tua. Demikian pula terhadap guru; Islam memandang mereka sebagai penerus tugas kenabian yang memberikan asupan bagi jiwa, layaknya orang tua mencukupi kebutuhan raga.
Berkaitan dengan pembangunan adab dan nilai-nilai luhur dapat diterima oleh generasi yang kritis, cara-cara yang bersifat menekan harus ditinggalkan dan diganti dengan pendekatan persuasif serta penuh empati:
Bayangkan Rayhan, seorang remaja kreatif yang mahir menyunting video. Demi mengejar viralitas, ia mengunggah video parodi yang mengolok-olok gurunya saat salah bicara di kelas. Rayhan bangga karena mendapatkan ribuan apresiasi di dunia maya.
Namun, ia tersentak saat melihat gurunya merenung sedih di sekolah. Rupanya, unggahan tersebut menghancurkan rasa percaya diri sang guru. Rayhan kemudian teringat kebaikan guru tersebut yang pernah menolongnya saat kesulitan.
Di sinilah nilai adab bekerja. Islam tidak mengekang kreativitas, namun membatasi tindakan yang merusak kehormatan orang lain. Menyadari kesalahannya, Rayhan memilih menghapus konten tersebut dan meminta maaf, sebuah langkah ksatria, yang dalam Islam disebut Tabayyun dan Ishlah.
Berkaca dari ilustrasi di atas , generasi muda sebaiknya melakukan:
Islam hadir sebagai solusi yang harmonis. Aturan adab bukan untuk membatasi ruang gerak, melainkan untuk memuliakan martabat manusia. Dengan menghidupkan kembali budaya etika, generasi mendatang tidak hanya akan cerdas secara intelektual, tetapi juga mempesona dalam kepribadian.-Erna Widyawati, Guru Bahasa Indonesia–

Beri Komentar