PERAN GURU DALAM MEMERANGI HOAX

Hoax dan peran guru dalam menangkalnya

 Maraknya pemberitaan-pemberitaan yang tidak benar yang sering muncul di media social maupun situs-situs berita online seringkali membuat masyarakat resah. Kemunculannya yang hampir setiap hari membuat para pegiat literasi menjadi gelisah. Agenda politik lima tahunan yang digelar oleh pemerintah semakin menyebabkan banyaknya berita-berita bohong yang yang diproduksi semakin bertambah dengan berbagai macam agenda dan kepentingannya masing-masing. Persebaran berita bohong ini ssudah memasuki semua bidang, tidak terkecuali dunia pendidikan. Sebagai contoh misalkan munculnya video yang menyebutkan bahwa jika pasangan calon tertentu memenangkan pemilihan presiden, maka pelajaran  agama Islam akan dihapus dari kurikulum. Berita ini mengakibatkan kecemasan di berbagai kalangan pendidikan, untungnya menteri pendidikan segera melakukan klarifikasi dan menyatakan bahwa berita tersebut bohong. Berita tersebut merupakan kejadian yang menjadi viral di media sosial akhir-akhir ini dengan berbagai macam komentarnya. Media sosial yang memuat hal tersebut diantaranya adalah Facebook, Line dan Twitter. Perdebatan di media sosial antara pihak yang langsung menelan informasi secara mentah-mentah dengan pihak yang menentangnya menjadi pemandangan setiap hari yang sering ditemukan. Masyarakat mulai terbiasa menemukan berita yang saling menyerang dan menyalahkan sejak perhelatan pemilihan gubernur di Jakarta pada tahun 2012. Perbedaan tersebut selalu diiringi dengan informasi yang cenderung menjadi fitnah bagi pihak lain. 

Berita seperti tersebut di atas diikuti dengan berita lain yang cenderung tidak benar. Berita tidak benar inilah yang disebut dengan “hoax” (kabar bohong). Menurut Lynda Walsh dalam bukunya yang berjudul “Sins Against Science”, disebutkan bahwa istilah “hoax” pertama kali muncul pada tahun 1808. Sedangkan kata “hoax” sendiri diyakini ada sejak ratusan sebelumnya yang berasal dari kata “hocus”. Kata “hocus” sendiri diambil dari kata “hocus pocus” yang merupakan frase yang seringkali disebut oleh pesulap dengan arti sama dengan “sim salabim”. Hoax yang pertama kali muncul di dunia adalah penerbitan almanak (kalender) palsu yang dibuat oleh Isaac Bickerstaff pada tahun 1709. (Alexander Boese, Museum of Hoaxes).Cara Mengidentifikasi Hoax

Kenali musuhmu sebelum maju ke medan perang. Pepatah tersebut layak kita jadikan bahan renungan dalam upaya memerangi “hoax”. Kemampuan mengidentifikasi “hoax” penting dalam upaya mencegah penyebarannya. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengidentifikasi apakah berita tersebut termasuk “hoax” atau tidak adalah: judul, sumber berita, isi berita dan keaslian foto/gambar.

Salah satu ciri “hoax” menurut dewan pers adalah pemakaian judul yang provokatif, sensasional dan cenderung menuding pihak tertentu. Apabila kita menemukan artikel yang memakai judul yang provokatif, yang harus dilakukan adalah melakukan pencarian referensi dari sumber lain yang resmi. Sehingga kita akan mendapatkan pemberitaan yang berimbang dan objektif.

Pengecekan sumber berita merupakan hal penting yang harus dilakukan untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Jika berita yang muncul berasal dari website atau situs yang belum teruji sebagai institusi pers resmi, maka perlu diragukan kebenaran beritanya. Menurut dewan pers, ada sekitar 43.000 situs berita di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah teruji sebagai situs berita yang resmi hanya sekitar 300. Hal ini memungkinkan terjadinya ketidak benaran informasi dari puluhan ribu situs yang belum terverifikasi oleh pemerintah. Selain itu, jika berita yang kita temukan berasal dari kiriman di media sosial yang diawali dengan kalimat “copy” dari grup sebelah atau tanpa mencantumkan sumber resmi, maka bisa disimpulkan bahwa berita tersebut termasuk “hoax”.

Kita harus menelaah dan menganalisa isi berita dengan cara membandingkan dengan sumber lain. Penelaahan isi berita ini bertujuan untuk mendapatkan fakta yang sebenarnya. Jangan sampai kita hanya menerima opini yang berasal dari orang yang kredibilitas dan jejak rekamnya tidak jelas. Selain itu dalam menganalisa isi berita, perlu memperhatikan gaya bahasa yang dipakai. Ada kecenderungan bahwa penyebar “hoax” adalah orang yang sama. Sehingga pilihan kata dan kalimat yang dipakaipun cenderung sama.

Pada jaman digital seperti sekarang ini, tidak hanya “hoax” berbentuk teks atau kalimat saja yang bisa dimanipulasi, tetapi juga gambar dan foto bisa diedit sedemikian rupa sesuai dengan selera dan tujuan pengeditnya. Cara untuk mengecek keaslian gambar atau foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yaitu dengan melakukan “drag-and-drop” ke kolom pencarian “Google Images” . Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan. 

Pengecekan poin tersebut di atas menjadi sebuah keharusan dalam penentuan apakah berita tersebut termasuk “hoax” atau tidak. Jangan sampai kita tercatat sebagai pihak yang ikut menyebarluaskan “hoax” karena ketidak mampuan kita dalam mengidentifikasi.

 Dampak Negative Hoax

Dampak negative yang muncul dari maraknya “hoax” diantaranya: menimbulkan keresahan, menyebabkan kerugian bagi pihak yang dituduh, memberikan keuntungan bagi pihak tertentu dan yang paling parah adalah memberikan kontribusi bagi masyarakat yang mempunyai anggapan bahwa “hoax” tersebut adalah sebuah fakta.

Maraknya “hoax” bisa menimbulan keresahan di masayarakat. Ketidak benaran informasi selalu diikuti dengan tuduhan yang profokatif. Sebagai contoh, ketika pemerintah melalui Kemkominfo sudah menyampaikan adanya keharusan daftar ulang kartu seluler paska bayar dengan memakai NIK yang bahkan sudah diikuti dengan penerbitan aturan resmi terkait dengan hal tersebut, ada “hoax” yang menyatakan bahwa hal tersebut sebagai trik dari pemerintah untuk pemilihan presiden tahun 2019. Hal ini kalau tidak segera disikapi dengan bijaksana bisa menimbulkan keresahan yang kemudian muncul kecurigaan dan ketidakpercayaan pada pemerintah. Bahkan dalam beberapa kasus hal ini bisa memicu timbulnya konflik, apalagi jika hal tersebut terkait dengan isu SARA. 

Selain menimbulkan keresahan di masyarakat, dampak berikutnya dari maraknya “hoax” adalah menyebabkan kerugian dari pihak yang dituduh. Kerugian inilah yang sebenarnya menjadi tujuan dari penyebar “hoax”. Entah itu berupa kerugian materi maupun non materi. Sekolah yang difitnah melakukan pungutan liar, pasti tercemar nama baiknya yang selanjutnya mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut. 

Dampak berikutnya yang tidak kalah menakutkannya adalah munculnya persepsi di masyarakat bahwa “hoax” yang mereka dengar dan baca tersebut adalah fakta sebenarnya. Persepsi ini muncul dikarenakan seringya mereka mendapati “hoax” di sekelilingnya. Sehingga masyarakat menjadi terbodohkan dengan asupan “hoax” yang meracuni akal sehat mereka.

 Peran penting guru

Pencegahan dampak negatif dari maraknya “hoax” di tengah-tengah masyarakat menjadi kewajiban semua pihak. Pemerintah mempunyai peranan dalam mencegah dan memberantas penyebaran “hoax” dengan penerbitan regulasi. Guru sebagai pedidik generasi bangsa mempunyai peranan yang penting dalam menangkal munculnya dan persebaran hoax. Edukasi ke siswa tentang ciri-ciri dari hoax, dampak negative dan cara menangkalnya menjadi sebuah keharusan. Hal-hal yang bisa dilakukan oleh guru di sekolah maupun di rumah adalah: membudayakan literasi, mempelopori dan menggalakkan gerakan “turn back hoax” dan memberikan pemahaman yang utuh tentang bahaya “hoax”.

Literasi merupakan modal dasar yang utama dalam memerangi “hoax”. Literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan dalam menganalisa sebuah teks, memahami dan menuliskan gagasan atau ide. Literasi yang baik akan menyebabkan siswa, terbiasa menggunakan akal sehat dan logika dalam menanggapi “hoax” dan lebih berhati-hati dalam meyikapinya, karena mereka mau membaca dan membandingkan. Sebaliknya kalau gerakan literasi tidak digalakkan, kita akan seringkali mendapatkan seseorang yang hobinya hanya “copy paste” dan “share” informasi tanpa mau mengkaji dan menelaahnya yang pada gilirannya akan menyebabkan maraknya “hoax”. 

Hal berikutnya yang bisa dilakukan oleh guru adalah mempelopori gerakan ”turn back hoax”. Gerakan yang dimaksudkan berisi; mengklarifikasi berita, membandingkan dan mendiskusikannya. Gerakan ini bertujuan menangkal dan mencegah “hoax”. Keteladanan merupakan kunci dari kesuksesan sebuah gerakan. Ketika kita sebagai guru menginginkan siswa, untuk memerangi “hoax”, maka kita harus memulainya terlebih dahulu dengan memberikan keteladanan dan contoh nyata. Misalkan ketika mendapatkan informasi, seharusnya tidak langsung membagikannya ke media sosial yang lain tanpa terlebih dulu memastikan kebenaran informasinya. 

Pemahaman tentang dampak negative “hoax” juga harus kita sampaikan secara utuh dengan bahasa yang bisa diterima terutama oleh siswa. Seperti yang sudah disampaikan di atas, “hoax” mempunyai dampak yang mengerikan. Diantaranya menimbulkan keresahan di masyarakat, merugikan pihak yang kena fitnah dan yang paling penting yang harus kita pahami adalah menyebarkan “hoax” termasuk salah satu perbuatan dosa. Dalam konsep ajaran Islam, Allah sudah memberikan peringatan dan petunjuk tentang langkah untuk menyikapi “hoax”, seperti tercantum di bawah ini: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS al-Hujurat:6)

Berdasarkan kutipan ayat di atas, Allah sudah memperingatkan tentang apa yang seharusnya kita lakukan ketika mendapati “hoax”. Sudah seharusnya kebenaran informasi tersebut kita periksa dengan hati-hati dan teliti. Dalam konteks kekinian, kita dituntut agar berhati-hati dalam menerima pemberitaan dari media apapun, terlebih media yang isinya sarat dengan muatan kebencian kepada pihak lain. Memproduksi atau menyebarkan informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, demi menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak, haram hukumnya.(MUI). Langkah tersebut diatas tidak hanya bisa diterapkan di sekolah, tetapi juga bisa kita praktekkan di tengah keluarga kita dan juga disampaikan ke teman kerja. Karena pada dasarnya dengan kesinambungan langkah pencegahan, edukasi kepada siswa dan masyarakat, juga ditambah dengan kerja sama semua pihak, maka bahaya “hoax” bisa kita minimalkan bahkan ditiadakan.